♥♥بسم الله الرحمن الرحيم ♥♥

ايمان متيارا هيدوڤ

نورول توفيقيه بوهايلي

نورول توفيقيه بوهايلي

Sunday, April 13, 2014

Pada Sebuah Nilai by I luv Islam

“Dunia Hanya Bernilai Bila Mana Dimanfaatkan Untuk Akhirat”
 Katakanlah pada suatu hari, datang seorang pemuda tampan yang sudah lama diminati melamar diri anda, dalam masa yang sama dia menjadi rebutan ramai muslimah di kolej anda, padahal anda bukanlah seorang wanita yang dirasakan layak, jauh sekali memikirkan bahawa situasi ini akan berlaku kepada diri?
Ketika itu anda adalah orang yang paling bertuah kerana apa yang diidamkan selama ini datang di depan mata. Hati hanya berkata: “Inilah nikmat”.
Katakanlah pada suatu hari, seorang fakir yang hampir pengsan akibat tidak menjamah makanan selama lima hari telah dihadiahkan dengan sebuku roti kering dan sebotol jus buah-buahan. Ketika nyawanya hampir ke hujung tanduk, ada nikmat berupa makanan datang kepadanya.
Jika dia seorang yang beriman, pasti hatinya akan berkata:“Ya Allah, inilah nikmat. Aku harus bersyukur.” Pada ketika itu jejaka tampan bukan lagi menjadi nikmat kepadanya, baginya sekeping roti lebih berharga daripada seorang lelaki idaman.
Katakanlah, anda seorang yang berada dan layak digelar jutawan. Mempunyai aset harta yang bernilai jutaan ringgit. Rumah dan kereta mewah bukan lagi menjadi suatu yang dianggap besar. Apa yang ada di hadapan mata atau yang terlintas difikiran anda pasti akan menjadi milik anda dalam sekelip mata.
Pada ketika itu, dimanakah nilai sebuku roti kering yang menjadi nikmat kepada si fakir yang sedang dalam kelaparan tadi jika ia dihulurkan kepada anda?
Adakah anda pernah terfikir bahawa nilai nikmat pada setiap orang itu berbeza-beza?
Sampaikan ada manusia yang kabur menilai nikmat.
Ada manusia, sebuku roti itu adalah nikmat baginya dan lambang kesyukuran untuknya. Ada manusia kesenangan adalah nikmat yang paling besar baginya kerana dia telah lama menderita. Ada manusia lain yang sudah bertahun-tahun lamanya menderita sakit lalu merasakan nikmat sihat adalah nikmat yang paling berharga buatnya.
Ya, nikmat yang dikurniakan itu sangat berbeza pada setiap individu. Sehinggakan ada manusia yang tidak tahu menilai nikmat yang datang kepadanya. Baginya, nikmat atau laknat sama sahaja.
Lalu bagaimanakah kayu ukur sebuah nikmat itu?
Pada nikmat yang diberi atau kepada yang menerima nikmat?
Jawabnya: Nilai dan kayu ukur sebuah nikmat terletak pada erti bersyukur.
Seorang yang kaya-raya tidak akan tahu menilai mana satu rezeki yang berupa nikmat kepadanya kerana dia berkuasa memperolehi segala-galanya melainkan dia tahu akan erti bersyukur. Dengan bersyukur, dia bisa menghargai segala kurniaan yang datang kepadanya samada kecil atau besar, sama ada diperlukan atau tidak dan sama ada sikit atau pun banyak. Dia akan sentiasa bersyukur ketika dia menghadapi situasi senang mahupun sukar.
Pendek kata, Allah S.W.T  tidaklah memandang sebesar mana nikmat yang diberikan oleh-Nya kepada manusia, tetapi melihat sejauh mana sikap manusia yang tahu bersyukur dalam setiap nikmat yang dikurniakan. Apabila seorang hamba itu bersyukur, dia akan menghargai nikmat yang datang sekaligus menghargai pemberi nikmat, iaitu Allah S.W.T.

Hindari Berdebat dengan Orang Jahil


Imam Syafi’i adalah adalah seorang ulama besar yang banyak melakukan dialog dan pandai dalam berdebat. Sampai2 Harun bin Sa’id berkata :
“Seandainya Syafi’i berdebat untuk mempertahankan pendapat bahwa tiang yang pada aslinya terbuat dari besi adalah terbuat dari kayu niscaya dia akan menang, karena kepandainnya dalam berdebat”. (Manaqib Aimmah Arbaah hlm. 109 oleh Ibnu Abdil Hadi).
Boleh saja berdebat, baik dengan lawan ataupun kawan, namun semuanya harus dalam rangka nasehat dan mencari kebenaran, bukan kemenangan. Inilah salah satu adab mulia dalam dialog atau debat yang seharusnya kita perhatikan bersama, apalagi akhir-akhir ini semakin marak dialog dan debat di sana sini.
Imam Syafi’i berkata :
مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا قَطُّ عَلَى الْغَلَبَةِ
“Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan” [Tawali Ta’sis hlm.113 oleh Ibnu Hajar]
Namun, jika yang kita hadapi ternyata adalah orang2 jahil, maka lain perkaranya. Bahkan Imam Syafi'i rahimahullah berkata :
"Aku MAMPU BERHUJAH dengan 10 orang yang BERILMU, tetapi aku PASTI KALAH dengan SEORANG YANG JAHIL, karena orang yang jahil itu TIDAK PERNAH FAHAM LANDASAN ILMU."
Maka dari itu, kita mending MENGALAH saja dengan orang yang jahil. Jika tidak, maka kita akan sama2 TURUT JAHIL. Maka DIAM saja itu PENYELAMAT, daripada diteruskan saling berbantahan yang TIADA KESUDAHAN.
Lengkapnya dari Imam Syafi'i Rahimahullah dalam SIKAP MENGHADAPI ORANG-ORANG JAHIL :
ﺍِﺫَﺍ ﻧَﻄَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻔِﻴْﻪُ ﻭَﺗُﺠِﻴْﺒُﻬُﻔَﺦٌﺮْﻳَ ﻣِﻦْ ﺍِﺟَﺎﺑَﺘِﻪِ ﺍﻟﺴُّﻜُﻮْﺕُ
"Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi"
ﻓَﺎِﻥْ ﻛَﻠِﻤَﺘَﻪُ ﻓَﺮَّﺟْﺖَ ﻋَﻨْﻬُﻮَﺍِﻥْ ﺧَﻠَّﻴْﺘُﻪُ ﻛَﻤَﺪًﺍ ﻳَﻤُﻮْﺕُ
"Apabila kamu melayani, maka kamu akan susah sendiri. Dan bila kamu berteman dengannya, maka ia akan selalu menyakiti hati"
ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﺳَﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ
"Apabila ada orang bertanya kepadaku,“jika ditantang oleh musuh, apakah engkau diam ??”
Jawabku kepadanya : “Sesungguhnya untuk menangkal pintu-pintu kejahatan itu ada kuncinya.”
ﻭَﺍﻟﺼُّﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟِﺼَﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ
"Sikap diam terhadap orang yang bodoh adalah suatu kemuliaan. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan"
Lalu Imam Syafi'i berkata :
ﻭَﺍﻟﻜَﻠﺐُ ﻳُﺨْﺴَﻰ ﻟَﻌَﻤْﺮِﻯْ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺒَّﺎﺡُ
"Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam ?? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong ??"
[“Diwan As-Syafi’i” karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i]
Beliau rahimahullah menambahkan :
"Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek
Maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi" [Diwan Asy-Syafi’i hal. 156]
Maka : Tidak perlu kita berdebat dengan orang2 yang nantinya hanya akan menghinakan diri kita sendiri, bahkan bisa jadi juga menghinakan para ulama.
Untuk itu Imam Syafi'i berkata kepada orang jahil yang menantangnya berdebat :
"Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, toh diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi Singa meladeni anjing"
Dan Nabi Muhammad shållallåhu ‘alayhi wa sallam juga telah bersabda :
“Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” [HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah].
Sudaraku.. Berdebat tidaklah terlarang secara mutlak, karena terkadang untuk meluruskan sebuah syubhat memang harus dilalui dengan berdebat. Dan debat itu terkadang terpuji, terkadang tercela, terkadang membawa mafsadat (kerusakan), dan terkadang membawa mashlahat (kebaikan), terkadang merupakan sesuatu yang haq dan terkadang merupakan sesuatu yang bathil. Namun jika debat dilakukan orang jahil, maka jelas hanya mafsadat-lah yang akan tertampil sebagai hasil.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِيْنَ
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil" (QS. Al-A’raf: 199)
Semoga bermanfaat. Hanya pada Allaah kita memohon petunjuk.
Wallahu Ta'ala A'lam bish showaab..

Wednesday, February 26, 2014

Kata-kata kosong..

Kala ini aku terduduk rapi sambil melihat dan merasai angin yang melambai-lambai meninggalkanku.
Baru hari ini rasanya aku berani untuk menulis kembali diari teknologiku setelah lama basi dimamah tarikh.

Aku kalut takut untuk berkata-kata lagi setelah perkara itu berlaku.
Masihkah ada peluang untukku.
Kalian pasti kebingungan seperti ayam dipotong leher.
Tidak tahu apa yang sedang aku katakan.

Sebenarnya tidak lain dan tidak bukan.
Pasti aku menceritakan tentang kehidupan dan perasaanku.
Ya perasaan yang mungkin dibalas atau tidak.

Suatu perkara yang tidak ingin dan tidak sanggup orang lakukan ialah mencinta dan menunggu insan yang jauh dari mata.
Itu situasiku sebenarnya.

Perlukah aku mengharap insan yang amat aku kagumi dan sayangi ini walaupun dia mungkin tidak menyimpan perasaannya padaku.
Aku sebenarnya kebingungan menghadapi situasi yang tidak pasti ini.

Kau yang ku gelar A.
Ku kan menunggumu 5 atau 6 tahun lagi.
Walau begitu lama.
Aku berani dan tida ragu-ragu untuk merindui dan mencintai dirimu.

Aku sungguh yakin untuk jadikan dirimu bakal imamku dan ayah kepada anakku.
Jadi mohon sekali kau terima diri yang hina ini.

Aku tahu mungkin ada yang bertakhta dihatimu.
Tapi mohon agar kau fikirkan kembali situasi ku ini.

Kita tidak pernah bersua apa lagi berbicara.
Tapi aku ingat!!
Aku pernah melihat mu di depan mataku.
Tapi oleh kerana kau menuntut ilmu,
Semakin jauhlah jarak kita.
Tidak mengapa.
Teknologi kan ada.
Semua teknologi yang kau guna aku tahu.

Mohon diri ini berhenti menulis dan disambung di kemudian hari.
Mungkin kadar jiwang terlalu membuat kalian murung.

Wassalam..

Thursday, January 16, 2014

Aku terluka

Ini lah perasaan yang aku takutkan,
Perasaan ini seperti hati yang bernanah akibat luka tertusuk buluh tajam,
Hampa kecewa menyelubungi diriku saat ini,
Tidak sanggup lagi ku teruskan.

Perasaan gentar yang ku geruni selama ini akhirnya berlaku,
Dirinya hanya berbual kosong padaku,
Tidak pernah mengambil serius akan perasaan orang lain,
Yang selama ini selalu mengaguninya.

Kecewa,
Menderita,
Sukar untukku tersenyum lagi setelah perkara ini terjadi,
Kau yang bernama insan yang disayangi,
Tidak pernah kah kau fahami sedikit pun apa yang ada didalam hatiku ini.

Hatiku kecut,
Otak ku takut untuk mengulangi kejadian seperti ini lagi,
Mungkin benar,
Forever alone itu patut menjadi visiku.

Hanya kematian yang mampu mengubatnya.

Wednesday, January 8, 2014

4 Alat Menguji Iman

Dalam perjalanan mempertahankan iman, seseorang itu akan silih berganti berhadapan dengan salah satu daripada empat keadaan :

1. nikmat
2. bala
3. taat
4. maksiat.

Keempat-empat itu adalah alat untuk menguji iman.

Dalam menghadapi ujian nikmat pohonlah kepada Allah SWT agar kita dapat mengikat nikmat tersebut dengan syukur. Apabila berhadapan dengan ujian bala', merayulah kepada Allah SWT agar bala' itu dihindarkan.

Atau jika bala itu tidak mahu pergi juga mintalah agar Dia menguatkan jiwa kita dengan kesabaran dan seterusnya mintalah agar Allah SWT mententeramkan hati kita dengan reda.

Apabila kita diberi kesempatan berbuat taat, ketahuilah ketaatan itu adalah kurniaan Allah SWT kerana kasihan belas dan rahmat-Nya kepada kita. Bukan ketaatan terjadi kerana kebolehan dan keupayaan kita.

Jangan melihat amal sebagai hasil usaha kita tetapi hendaklah ia dilihat sebagai pemberian Allah SWT yang wajib disyukuri dan seharusnya kita merendah diri kepadaNya. Dengan tawadhu' yang tulus.

Apabila terjerumus melakukan maksiat pula, ketahuilah bahawa jika kita tidak peduli di lembah kehancuran mana bakal kita jatuh, maka Allah SWT juga tidak peduli di jurang mana kita binasa dan di neraka mana kita menanggung azab seksa.

Jika tidak mahu dibinasakan oleh Allah SWT dan diseksa dengan azab yang pedih, larilah kepadaNya dengan meninggalkan lembah maksiat, bertaubatlah dengan sepenuh hati. Sebenar-benar taubat.

Dalam mengajukan permintaan kepada Allah SWT, yang perlu dilihat adalah diri sendiri. Bukan apa yang diingini. Penting bagi seseorang mengenali dirinya dan menghisab dirinya.

"Maka Dia (Allah) mengilhamkan (dalam diri manusia) jalan kejahatan dan ketakwaan (kebaikan). Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan (jiwa itu), dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya.." (As-Syams, 8-10)


ﷲ INSYA ALLAH ﷲ

PERBAIKI DIRI

Kisah Si Pemuda Penjara

Seorang pemuda yang baru keluar penjara setelah 10 tahun dipenjara sejak dari umurnya 18 tahun, singgah di sebuah kedai menjual kopiah berhampiran penjaranya.

Pemuda: "Abg, berapa harga satu kopiah ni?"

Bro: "RM30."

Pemuda: "Tak boleh kurang sikit?"

Bro: "Orang macam kau ni tak payahlah pakai kopiah." *tetibe*

Pemuda mendiamkan diri. Meletakkan kembali kopiah putih tersebut.

Bro: "Orang kalau dah tak baik, pakai kopiah macam mana pun tak akan dapat tudung kejahatan dia buat. Jangan rosakkan imej orang lain yang berkopiah pula. Tak payah pakailah, senang. Kalau pakai, tapi perangai macam syaitan bukan ke hipokrit, munafik namanya? Berpura-pura baik dengan imej berkopiah di hadapan orang. Yang di facebook pula sibuk letak imej berkopiah untuk melariskan diri sendiri dengan imej yang baik. Hak tuih!"

Pemuda: "Tak mengapalah macam tu bang. Jangan risau, saya tak beli kopiah ni. Saya pun tak mampu beli kopiah harga ni."

Bro: "Ha bagus. Dah, aku nak meniaga. Ko pergi mengemis tempat lain boleh? Aku dah kenal ramai la yang keluar penjara macam kau ni. Suka dapatkan simpati."

Pemuda menundukkan kepala, cuba berlalu dari situ. Tapi ditahan oleh seorang pakcik.

Pakcik: "Nanti, biar pakcik belikan."

Pakcik segera menghulurkan note RM30 kepada penjual kopiah.

Pakcik: "Biarlah dia nak pakai kopiah. Kopiah tu kan dari pakaian orang Islam juga. Kemas sikit, tak adalah nampak serabai sangat rambutnya."

Bro :"Pakcik tak payahlah kesian sangat dekat budak ni."

Pakcik: "Samada dia hipokrit atau tidak, baik atau tidak, itu urusan dia dengan Allah. Tugas kita adalah menegur dia jika dia salah, tunjuk dan bimbing dia jika dia hilang arah.

Biarlah dia pakai kopiah, sekurang-kurangnya bila dia nak buat maksiat, dia ingat kopiah di kepalanya. Mula-mula rasa malu pada kopiah. Dari malu kepada kopiah, timbul malu kepada Tuhan. Dengan memakai kopiah, mungkin dia akan malu memandang aurat gadis-gadis di sekelilingnya lalu menundukkan pandangan."

Bro: "Dah tu, yang dalam facebook tu apa cite plak?"

Pakcik: "Terpulang pada niat masing-masing;

1. Jika niatnya adalah kerana Allah, maka dapatlah pahala.

2. Jika niatnya nak memancing wanita, maka mungkin dapatlah apa yang dihajati tapi tidak mungkin dapat Allah kerana tidak ikhlas.

3. Jika niatnya supaya orang lebih tertarik kepada Islam dengan imej sopan yang ditunjukkan, alhamdulillah..bagus.

4. Kadang-kadang orang lebih mudah berikan kepercayaan pada yang berimej baik dan sopan dari yang berimej sebaliknya. Lebih dipercayai berbanding mereka yang membawa imej misalnya terlampau rock, yang akhirnya menyebabkan mereka kurang diberikan kepercayaan.

5. Orang yang berpura-pura dengan berimej Islamik dan bertopengkan agama di facebook, ilmu bermanfaat yang disebarkan dapatlah pahala untuk part tu. Tapi dari segi keikhlasan, dia ada masalah dengan Allah. Dia kena muhasabah balik, betulkan niat. Tak guna disukai orang, tapi dibenci oleh Allah."

Bro mengangguk-angguk malas seraya beralih ke customer yang lain. Malas nak layan celoteh pakcik.

Tiba-tiba pemuda tersebut memeluk pakcik tersebut dengan deraian air mata.

Pemuda: "Selama 10 tahun saya berada di penjara, 5 tahun saya enggan solat. Namun apabila pertama kali saya cuba solat di dalam penjara dengan memakai kopiah penjara, saya rasa tenang sangat-sangat. Saya akhirnya bersolat. Bila melihat wajah saya dalam cermin dengan berkopiah, rasa macam tak percaya. Nampak tenang dan tak serabut seperti selalu. Sejak dari hari tu, saya berazam hari pertama saya keluar penjara saya nak beli kopiah saya sendiri..saya nak berhijrah.."

Pakcik: "Alhamdulillah..namun ingatlah, penghijrahan bukan sahaja bermula dengan imej Islamik, tetapi lebih penting lagi di sini." (sambil menunjuk ke arah dada pemuda tersebut)

Usai bersalaman, pakcik meminta diri dari pemuda tersebut dan berlalu pergi. Sekilas, pemuda teringat dia belum lagi mengucapkan terima kasih. Ditolehnya ke belakang, namun pakcik tersebut dah tiada. Hilang sekelip mata.

Pemuda tercari-cari, berlari-lari ke segenap arah. Namun tidak dijumpai kelibat pakcik. Hampa. Mengeluh seketika.

Namun dalam hatinya kini ada dua penghargaan;

"Terima kasih, pakcik."

"Terima kasih Tuhan."

Tuesday, January 7, 2014

Erti Ujian Allah

Aku cuma seorang gadis biasa. Perwatakan, pemakaian aku, belum cukup sempurna sebagai seorang muslimah sejati. Tapi Allah itu Maha Penyayang, tidak dibiarkan seorang yang seperti aku untuk terus hanyut dan lalai melupakanNya.
Aku bukanlah tidak solat, cuma terkadang lalai. Aku bukan tidak puasa, cuma mulut masih rancak mengumpat. Aku beragama Islam tapi aku sedar, Islam ku belum cukup sempurna seadanya.
Aku pernah punya kekasih hati. Seorang yang baik, yang banyak mengubah aku. Seorang yang aku selalu bayangkan bakal menjadi imam setiap solatku. Tapi kasih terhenti atas sebab yang tidak diingini. Aku rasa rebah seketika. Aku tiada tempat mengadu kerana aku tinggal sendirian. Selera makanku putus. Mengukir senyuman terasa mustahil. Aku habiskan masa depan komputer riba usangku. Mencari doa terbaik untuk menenangkan jiwa.
Suatu hari, aku terjumpa Al-Insyirah. Bait-bait dalam Al-Insyirah cukup menekan kalbuku. Aku terpesona. Aku teliti dan hayati maksud ayat surah itu. Lalu ku baca satu persatu.
“Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Peyayang…
1. Bukankah Kami telah melapangkan bagimu: dadamu (Wahai Muhammad serta mengisinya Dengan iman dan hidayah petunjuk)?
2. Dan Kami telah meringankan bebanmu daripadamu:(menyiarkan Islam) -
3. Yang memberati tanggunganmu,
4. Dan Kami tinggikan sebutan (nama)mu bagimu.
5. Maka (tetapkanlah kepercayaanmu) Bahawa Sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan,
6. Bahawa Sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan.
7. Maka apabila Engkau telah selesai (daripada sesuatu amal Soleh), maka bersungguh-sungguhlah Engkau berusaha (mengerjakan amal soleh Yang lain),
8. Dan kepada Tuhanmu sahaja hendaklah Engkau memohon (Apa Yang Engkau gemar dan ingini).”
Setiap kali usai solat, surah Al-Insyirah akan ku baca. Setiap kali jantung terasa berat, hati terasa sarat. Aku ulangi lagi Al-Insyirah. Setiap hari komputer riba aku tatapi, mencari sesuatu yang bisa untuk ku hilangkan segala resah di hati.
Dan akhirnya aku tersedar, segala bebanan yang aku tanggung, segala ujian ini sebenarnya tanda kasih Allah pada aku. Allah rindukan rintihan aku. Aku tahu, Allah mahu mengajar aku erti sebenar ujian-Nya.
Dari situ, satu persatu aku temui. Semua bermula dari komputer riba usang ku. Tiada pentingnya cinta manusia jika Allah tidak kita letakkan pada nombor satu. Namun, aku cuma insan lemah. Sering juga aku rasa kalah, aku rasa resah. Aku masih cuba membaiki diri, setapak demi setapak. Aku masih lagi aku yang dulu, cuma aku harapkan rohani aku sedang dalam proses pemulihan dan pembersihan.
Alhamdulillah, Allah sedarkan aku dengan menghantar ujian buat aku. Allah tinggalkan aku sendirian jauh dari manusia yang lain, supaya aku dekati-Nya, supaya aku dapat luahkan semua padaNya. Allah hantar ujian buat aku supaya aku sedar bahawa Dia adalah penguasa diriku, supaya aku sedar bahawa hati aku adalah milikNya. Jika gembira hati ini, semua datang dariNya, jika berat hati ini, kepada dia jugalah tempat aku mengadu untuk hilangkan resah.
Dalam hadith qudsi Allah berfirman:-
“Pergilah pada hambaku lalu timpakanlah berbagai ujian padanya kerana Aku ingin mendengar rintihannya” 
(Hadis Riwayat Tabrani dari Abu Umamah)
Bukan mudah untuk memahami sepotong ayat ini. Aku bersyukur kerana aku di antara hambaNya yang terpilih untuk diberi ujian. Dari ujian ini lah aku mencuba untuk memperbaiki diri. Kerana aku tak mahu aku hanya mencariNya di kala aku kesusahan.
Aku mahu aku sentiasa merindui tuhanku. Aku mahu setiap gembira ku dimulai dengan Alhamdulillah supaya setiap kesusahan ku dapat aku luahkan padaNya tanpa rasa malu.
Semoga Allah sentiasa membantu aku untuk memperbaiki diriku.
1265821_622383607792406_657279946_o

Pemilik Hatiku

Aku lukiskan dalam diam
Bahawa hatiku butuh sebuah penghargaan
Yang dijaga dan menjaga
Mata dan hati bernama hamba
Istikharahku kian jelas berbicara
Bahawa inilah keharusan
Mencari yang lebih kekal dan hampir
Sedekat-dekat telingaku
Takkan pernah jatuhkan aku
Takkan pernah lemaskan aku
Bahkan memeluk diriku penuh rindu
alt
Melepaskan bisikan yang berharap
Biar sunyi selamanya sunyi
Hati ku takkan dimiliki
Kerna jiwaku yang mengingini
Melepaskan bisikan yang berderap
Suci tanpa hubung
Sirna bersama cinta Agung
Allahurabbi
Allahurabbul Izzati
Pemilik hatiku
Istikharahku menetapkan segala
Bahawa kanku lepaskan segala
Lalu tawakkal penyambung cerita
Menitislah air mata
Kujatuhkan penuh bahagia
Kuusap penuh rela
Pada cintaku terpelihara
Hadirnya dengan izin Maha Kuasa

Monday, January 6, 2014

Kekasih yang HALAL

Aku Nak Jadi Kekasih Halal Dia
Pada malam yang hening dan sunyi, aku bangun untuk bersujud padaNya. Aku berdoa agar diampunkan segala dosa-dosaku. Selama ini memang aku lalai mengingatiNya.
Di atas hamparan sejadah suci
Hamba menadah kedua telapak tangan ini
Bagi memohon keampunan dan rahmat dariMu
Agar diberikan hamba hidayah serta taufiqMu
Supaya tidak tersimpang hamba dari jalanMu…

Hati hamba merasa hambar dan sunyi
Tanpa iman dan semangat taqwa dalam hati
Jiwa hamba kosong dan takkan berisi
Melainkan dengan redha Yang Maha Mengetahui
Yang menemukan hamba dalam bingkisan restu Yang Maha Mengasihani…
Saat tasbih mengisi ruang kosong di jari-jari
Mulut dan hati hamba bersatu berzikir mengingat ILAHI
Jiwa hamba terisi dengan munajat di malam hari
Diri ini hamba abdikan buat Pencipta langit dan bumi
Moga dosa-dosa lampau dapat dihapusi dan diampuni…

Kening ini hamba rapatkan di atas hamparan murni
Sujud dahi hamba mencecah ke bumi
Tanda syukur hamba akan kebesaran ILAHI
Tidak terukur nilai cintaMu yang tinggi
Tidak terhitung nilai kasihMu yang bertambah setiap hari…



Ya Rabbul Izzati…
Sudikah Kau menerima cinta hamba yang hina dengan longgokan dosa ini??
Semoga keampunan mendapat tempat untuk hamba yang sering lupa diri
Semoga rahmatMu sentiasa hadir menemani
Agar kehidupan duniawi dan ukhrawi hamba diredhai …

Hamba amat mendambakan cinta dariMu
Hamba juga mengharapkan pertemuan denganMu
Diri hamba ini dahaga akan belaian kasihMu
Hamparan sejadah suci hamba buktikan padaMu
Sujud cinta hamba hanyalah untuk Tuhan yang berkuasa di atas segala sesuatu…

Aku selalu mohon pada Ilahi agar aku mendapat jodoh dengan insan pilihanNya. Aku ingin cintaku dekat denganNya. Aku ingin mendapat bimbinganNya dalam melayari kehidupan bahagia yang ku idamkan.

Dalam mencari sebuah hikayat cinta
Hati yang tulus murni amat sukar ditemui
Sukar mencari jiwa yang menerima seadanya
Cinta manusia hanyalah pinjaman di duniawi
Cinta ILAHI jualah yang kekal selamanya
Hanya insan terpilih akan memiliki cinta sejati di uhkrawi…

Hadirkanlah dalam cerita hidupku
Seorang insan bernama teman
Yang sentiasa berada di dalam doaku
Bersama diriku menempuh onak perjuangan
Rela sehidup semati dalam pimpinan agamaMu
Agar dapat merasakan kemanisan iman…

Temukanlah aku dengan cinta yang mencintaiMu
Cintakanlah hatiku dengan cinta yang merindui syahid fisabilillah
Bukan cinta yang berlandaskan hawa nafsu
Kerana syaitan akan menjadi pemisah
Antara cinta hakiki dan cinta palsu
Yang hanya menyebabkan hati terbelah dan berpecah…

Berilah hatiku kekuatan dan ketabahan
Dalam mencari cinta seorang insan
Bersenjatakan kekebalan iman
Berperisaikan doa dan kesabaran
Dalam mengahadapi dunia yang penuh kepura-puraan
Menjadi sebuah permainan hidup yang mensia-siakan…



Satukanlah hatiku ini dengan sekeping hati murni
Yang membawa aku ke arah jalan kebenaran ILAHI
Yang bisa menjadi bukti lafaz cinta suci
Pada pandangan ALLAHURABBI
Agar berkekalan hingga ke syurga abadi
Dan berbahagia di taman indah firdausi…

Bisakah dicari dalam dunia yang fana’ ini
Seorang teman hidup idaman hati
Yang memiliki keteguhan iman yang tinggi
Dan mempunyai hati yang tulus suci
Serta kaya dengan budi pekerti dan akhlak terpuji
Dalam menghulurkan cinta sejati???
Semoga cinta yang sejati akan ku temui
Semoga hari itu akan menjadi saksi
Pertemuan dua hati murni di hadapan ILAHI
Di depan pintu gerbang syurga hakiki dan abadi…

Ya Allah, kami mohon padaMu agar diampunkan dosa kedua ibu bapa kami, dosa-dosa kami dan dosa seluruh umat Islam. Kurniakanlah kami zuriat-zuriat yang bakal menjadi pejuang syahid fisabilillah. Redhailah dan restuilah tali pernikahan kami ini agar berkekalan hingga ke syurga Firdausi. Janganlah Kau biarkan kami hanyut dengan nafsu duniawi sehingga melupakan ukhrawiMu. Bimbinglah hati kami sentiasa. Jadikanlah kami pasangan bahagia dunia dan akhirat. Terima kasih ya Allah kerana dengan izinMu, Kau jadikan kami kekasih halal. Kau perkenankan juga doaku untuk menjadi kekasih halal isteriku. Semoga Kau panjangkan jodoh kami agar kami dapat berjumpa dan berkasih sayang lagi di akhirat kelak.
Amin ya rabbal a’lamin…

P/s : Ya Allah, jadikanlah diriku ini seorang bakal isteri yang mentaatiMu dan mentaati bakal suamiku. Jadikanlah aku ibu yang akan mengasuh bakal anak-anakku dengan ajaran agama muliaMu. Berkatilah hubungan kami ini agar aku dan dia kekal behagia sehingga maut menjemput kami untuk kembali ke pangkuanMu.

Rancangan siapa yang sempurna

Kita merancang yang terbaik untuk diri kita,
Tapi disebalik rancangan kita Allah juga merancang untuk kita,
Tetapi Allah lah  perancang yang terbaik.

Terfikir sejenak,
Apakah rancangan ku ini akan menjadi rancangan yang terbaik?
Terpaku seketika...
Hurmm... mungkin apa yang penting usaha.

Begitu banyak yang perlu diuruskan,
Begitu banyak yang perlu diselesaikan,
Kepala pusing terlalu memikirkannya,
Namun, ku gagahi untuk menyempurnakan sebaiknya.


Bagi dirinya yang jauh dimata,
Semoga kau baik-baik sahaja,
Mungkin jika kau menginginkan diriku,
Kau akan memlamar ku 4-5 tahun akan datang,
Tapi jika kau tidak menginginkanku,
Pasti Allah akan memberiku jodoh yang terbaik yang pasti bukan dirimu.

Tunang SMS

Remajaku sayang,
Jika anda memilih cara bertunang semudah menghantar sms, tidakkah anda membayangkan betapa rapuhnya ikatan itu?

Bayangkan situasi ini:
“Saya suka awak. Saya rasa nak kahwin dengan awak,” seorang lelaki menghantar sms.
“Sayapun suka awak. Sayapun rasa nak jadi isteri awak,” balas si gadis.
“Kalau begitu, kita dikira bertunang. Jangan terima orang lain, tau,” pesan si lelaki.
“Jumpalah mak ayah saya dulu, baru kita dikira bertunang,” pinta si gadis.
“Ustaz saya kata, bertunang itu ialah teruna dan dara berjanji untuk bernikah,” kata si lelaki.
“Eh, apa beza bertunang dengan bercoupling macam kita ni?” keliru si gadis.
“Entah?! Ah, sama je tu!” jawab si lelaki.
“Tapi, ustaz saya kata, antara tujuan bertunang ialah untuk mengetahui persetujuan wali sebab wali adalah salah satu rukun nikah nanti,” kata gadis itu.
“Itu zaman dulu. Kita sekarang dah canggih. Tak perlu cincin, tak perlu hantaran, hantar sms terus bertunang. Ingat, awak tunang saya! Haram lelaki lain pinang awak tau,” kata si lelaki.
“Hmm, kalau macam tu, kita putus tunang sajalah sekarang!” tegas gadis itu.

Untuk apa bertunang, jika tidak sampai lima minit? Keliru pula antara bertunang dan berpacaran.

Beginilah yang terjadi. Jika Islam yang mudah diambil mudah untuk bermudah-mudah, situasi jadi tambah rumit dan payah. Ikatan pertunangan yang sepatutnya teguh dengan komitmen keluarga, menjadi sangatlah rapuh.

Terima Kasih

" Ya Allah Aku rindukannya keranaMu Ya Allah , Jauhkanlah daku dari perkara yang membuatkan aku lupa kepadaMu . Aku semakin mengerti, ‘JARAK’ ini bukan untuk menghukumku..tetapi ‘JARAK’ ini untuk MENJAGA aku dan dia..


✿~ Dengan ‘JARAK’ ini aku dan dia berjanji untuk BERUBAH menjadi yang lebih baik..
✿~ Dengan JARAK ini aku dan dia berjanji untuk MEMPERBAIKI cinta kepada Ilahi..
✿~ Dengan jarak ini aku dan dia berjanji untuk MENCINTAI Pencipta kami lebih dari segalanya..
✿~ Dengan JARAK ini aku dan dia berjanji untuk MENDALAMI Islam hingga ke akar umbi..
✿~ Dan Dengan JARAK ini jua aku dan dia yakin andai tiba saatnya nanti, aku dan dia akan LEBIH BERSEDIA untuk melayari semua ini dengan jalan yang diredhai..

p/s : Terima kasih ya Allah kerana memberi PELUANG kepadaku melalui jalanMu ini..terima kasih kerana memberikan JARAK itu kepada aku dan dia..♥♥

Sunday, January 5, 2014

Nukilan buat dirimu dan diriku

Alhamdulillah,
Syukur pada Allah kerana memberi pinjam kegembiraan yang tidak tergambar pada hari ini,
Syukur kerana aku masih diberi kekuatan untuk mengungkapkan kebenaran di sudut hatiku ini,
Bukanlah aku tidak mampu bersabar.
Tetapi mungkin sudah ditetapkan bahawa hari inilah penentu segalanya.

Alhamdulillah,
dirinya redha untuk merelakan diriku untuk menunggu sehingga dirinya bersedia untuk diriku,
Subhanallah betapa gembiranya diri ini.
Tidak mampu aku gambarkan.

Tidak sia-sia aku menunggunya bertahun-tahun,
Tidak sekali pun aku menceritakan kisah ini pada orang lain,keluargaku atau sahabatku sendiri.
Biarlah Allah sahaja yang mengetahuinya.



Wahai bakal imamku,
Meskipun aku harus menunggumu begitu lama,
Aku akan berusaha tetapkan pendirianku ini,
Semoga Allah memberkati isi hati yang terpendam ini.

Tidak lama lagi kau akan jauh beribu batu dari keluarga ,saudaramu dan begitu juga aku,
Maka kuatkanlah imanku,kuatkan semangatmu,kuatkan hatimu agar semuanya berjalan lancar seperti yang kau harapkan,
Mengadulah padaNya sekiranya kau buntu dan perlukan pertolongan,
Sesungguhnya Dialah yang sentiasa membantu mu dimana kau berada.

Tidak mengapa,
Aku disini juga akan kuatkan semangatku menggapai cita-citaku,
Aku akan sentiasa kuatkan imanku,begitu juga hatiku agar hatiku sentiasa terjaga.

Bangkitkan semangatmu meneruskan perjuangan,
Tidak mengapa, 4-5 tahun lagi,
InsyaAllah kita akan berjumpa lagi,
Cukuplah kenangan hadiahmu ini membangkitkan semangatku disini.

Wasalam..

Wednesday, January 1, 2014

1000 Tahun Dalam Kubur


altAwan sedikit mendung ketika kaki kecil Yani berlari-lari gembira di atas jalanan menyeberangi kawasan untuk ke tanah perkuburan. Baju merahnya yang besar melambai-lambai di tiup angin. Tangan kanannya memegang ais krim sambil sesekali mengangkatnya ke mulut untuk dijamahi. Sementara tangan kirinya digenggam erat oleh ayahnya.
Yani dan ayahnya memasuki kawasan tanah perkuburan menuju ke pusara neneknya. Kemudian mereka duduk di atas tembok nisan yang bercatatan;
Hjh Aisyah Binti Marlia 19-10-1915 : 20-01-1965
“Nak, ini pusara nenekmu. Mari sayang… kita berdoa untuk nenek.”
Yani melihat wajah ayahnya, lalu meniru gaya tangan ayahnya yang diangkat ke atas dan dia ikut memejamkan mata seperti ayahnya. Dia khusyuk mendengar ayahnya berdoa walaupun dia masih belum mampu memahami sepenuhnya setiap baris doa yang dititipkan.

“Ayah, nenek meninggal semasa umur 50 tahun ya?”
Ayahnya mengangguk dan tersenyum sambil memandang pusara ibunya.
“Hmm, bererti nenek sudah meninggal 48 tahun ya, Yah?” Kata Yani sambil lagak matanya mengira dan jarinya menghitung.
“Ya, nenekmu sudah di dalam kubur selama 48 tahun sayang… “
Yani menoleh kepalanya dan memandang sekelilingnya. Banyak pusara di sana . Di samping pusara neneknya terdapat pusara tua yang sudah berlumut.
Muhammad Zaini 19-02-1882 : 31-01-1910
“Hmm.. Kalau yang itu sudah meninggal 103 tahun yang lalu ya Yah?” jarinya menunjuk nisan bersebelahan pusara neneknya itu.
Sekali lagi ayahnya mengangguk dan tangannya mengusap kepala anak tunggalnya itu.
“Ya nak. Benar katamu sayang. Mengapa?” tanya si ayah sambil menatap mata anaknya yang redup.
“Hmmm, semalam ayah beritahu jika kita meninggal dan banyak dosa. Kita akan diseksa di kubur. Iya kan yah?” kata Yani sambil meminta persetujuan ayahnya.
Ayahnya tersenyum dan menggangguk.
“Benar, lalu?” tanya si ayah meminta penerangan si anak.
“Iya… kalau nenek banyak dosanya, bererti nenek sudah diseksa 48 tahun di kubur ya ayah? Kalau nenek banyak pahalanya, bererti sudah 48 tahun nenek bahagia dikubur. Betul tak ayah?” Mata Yani bersinar ingin tahu.
Ayahnya tersenyum, namun sekilas menampakkan keningnya yang berkerut dan perasaannya yang cemas.
“Iya nak, kamu pintar sayang,” kata ayahnya pendek.
Pulang dari tanah perkuburan, ayah Yani kelihatan gelisah di atas sejadahnya. Dia memikirkan perkara yang telah diperkatakan oleh anak kesayangannya tadi.
“… 48 tahun hingga sekarang… kalau kiamat datang 100 tahun lagi…148 tahun diseksa .. atau bahagia dikubur?” Dia bermonolog sendirian.
Lalu dia tertunduk dan menitiskan air mata.
“Kalau dia meninggal dan banyak dosanya – kiamat masih 1000 tahun lagi, bererti dia akan diseksa 1048 tahun?..’Innalillaahi wa inna ilaihi rooji’un’… “
Air matanya semakin banyak menitis, sanggupkah dia diseksa selama itu.
“Itu kalau benar kiamat lagi 1000 tahun tetapi kalau 2000 tahun lagi? Kalau 3000 tahun lagi? Selama itukah  dia akan diseksa di kubur? Mampukah dia bertahan dengan tiap seksaan? Padahal melihat adegan pukul di salah satu rancangan televisyen pun dia sudah tidak tahan untuk melihatnya?” Jiwanya penuh dengan monolog.
“Ya Allah…”
Dia semakin menunduk. Tangannya diangkat dan air matanya semakin membanjiri pipinya.
“Allahumma as aluka khusnul khootimah.”
“Ya Allah, kurniakanlah aku pengakhiran kehidupan yang baik.”
Berulang kali dibacanya doa itu sehingga suaranya serak dan terhenti sejenak apabila terdengar batuk Yani. Dihampirinya anak kesayangannya yang sudah terlena dan membetulkan selimutnya.
Yani terus tertidur tanpa mengetahui betapa ayahnya amat berterima kasih kepadanya kerana telah menyedarkannya erti sebuah kehidupan dan kehidupan hakiki yang akan datang di hadapannya.
“Ya Allah, letakkanlah dunia ditanganku, jangan Kau letakkan dihatiku…”

Hijrah Cintaku

Malam itu lunak. Tanpa dikaburkan bait irama yang disangka nan indah. Diserakkan bersama rasa malu. Puncak akhlak itu kian tertinggi, antara dua keping jiwa. Berkorban rasa pinta direnyaikan. Bilakan saat terindah itukan terjaga. Teruskan terpelihara, lamanya hingga usai siap siagalah mereka. Dalam hati sang pendoa, sentiasa rasa terhibur. Pada resah yang bersinggah. Pada kelu sendu, direlungi titisan air matanya.
Tahajjud malam hari kan mendekatkan yang jauh. Yakin dan tulus. Semakin tunduk dan mendekatlah sayup doa yang sama. Meminta untuk dijauhi. Memohon agar hati tidak sesekali dicemari.
Mempercayai bisik harap. Sentiasa ia bersuara. Kerap dan sentiasa pinta dijauhkan. Sebelum waktunya. Sungguh, jiwa-jiwa yang mencintai keredhaan Tuhannya. Tidak sesekali inginkan kalimat indah. Terpacul penuh mudah. Tertulis penuh bait. Ia mahu untuk disimpan. Iakan mahu untuk dihijab. Iakan sentiasa gamang. Pada gerun takut pada zina. Bukankah terindahnya kerna menjauhi kotor dan keji? Dan sering hati dan segala anggota meneguk terus, ungkap-ungkap suci dan telus dari Tuhannya.
“Demikianlah supaya kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba kami yang terpilih.”  (Yusuf, 24)
seindahcintaislam demi cinta Allah
Seribu musim pun akan terus berlalu. Saat fikir tiada lagi akan sebuah penantian. Jauh dari dasar hati, mahu iakan muncul di akhirnya. Sungguh, tetapnya hati itu. Kerna tetapnya istikharah yang berdesir. Pada wajah yang tak pernah nampak, pada suara yang tak pernah tersurat.
Menjauhi corong emosi. Bergetar pada sebelahnya nafsu yang maha keji. Menyiratkan malu yang bertemu. Sujud terindah dan tertulislah kedekatan sebuah taqdir. Akan sebuah rindu terindah. Tersiksa kerna berusahanya dari sisi halal. Terperit kerana doanya tak pernah menipis. Tersedu sedan kerna memilih simpang yang sulit namun penuh tulus dengan bait keimanan haqiqi. Demi semata-mata meraih RedhaNya. Kerna rasa padaNya adalah yang utama dan pertama! Lantas, jalan itu dilalui.
Berusaha sentiasa perlu bermuhasabah. Usah sampai segalanya nampak putih dan gebu. Sedang syariat bersuara serak menafi rindu di qalbu. Memilih untuk mencintai. Umpama berkorban tanpa henti. Umpama menanti suatu yang pasti. Bukankah?
Malam akan sentiasa mendatang. Bingit menyiksa hingga kapan pun hilang bicara. Menulis rangkap bisa buat hati yang menanti. Bernafasnya DEMI dan HANYA Ilahi. Simpang kanannya bercahaya. Sulit. Pandanglah ke hadapan.
Kesulitan takkan pernah berubah pada namanya. Ia kan sentiasa bersifat sukar. Ianya berduri. Ianya perlu iman tebal di hati. Ianya perlu redha ayah dan ibu yang dicintai. Ia juga, sentiasa melukis pada sebuah kanvas hijrah. Kepada kebaikan. Kepada kesempurnaan.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang AKU, Maka (jawablah), bahwasanya AKU adalah dekat. AKU mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Baqarah, 186)