♥♥بسم الله الرحمن الرحيم ♥♥

ايمان متيارا هيدوڤ

نورول توفيقيه بوهايلي

نورول توفيقيه بوهايلي

Sunday, April 13, 2014

Pada Sebuah Nilai by I luv Islam

“Dunia Hanya Bernilai Bila Mana Dimanfaatkan Untuk Akhirat”
 Katakanlah pada suatu hari, datang seorang pemuda tampan yang sudah lama diminati melamar diri anda, dalam masa yang sama dia menjadi rebutan ramai muslimah di kolej anda, padahal anda bukanlah seorang wanita yang dirasakan layak, jauh sekali memikirkan bahawa situasi ini akan berlaku kepada diri?
Ketika itu anda adalah orang yang paling bertuah kerana apa yang diidamkan selama ini datang di depan mata. Hati hanya berkata: “Inilah nikmat”.
Katakanlah pada suatu hari, seorang fakir yang hampir pengsan akibat tidak menjamah makanan selama lima hari telah dihadiahkan dengan sebuku roti kering dan sebotol jus buah-buahan. Ketika nyawanya hampir ke hujung tanduk, ada nikmat berupa makanan datang kepadanya.
Jika dia seorang yang beriman, pasti hatinya akan berkata:“Ya Allah, inilah nikmat. Aku harus bersyukur.” Pada ketika itu jejaka tampan bukan lagi menjadi nikmat kepadanya, baginya sekeping roti lebih berharga daripada seorang lelaki idaman.
Katakanlah, anda seorang yang berada dan layak digelar jutawan. Mempunyai aset harta yang bernilai jutaan ringgit. Rumah dan kereta mewah bukan lagi menjadi suatu yang dianggap besar. Apa yang ada di hadapan mata atau yang terlintas difikiran anda pasti akan menjadi milik anda dalam sekelip mata.
Pada ketika itu, dimanakah nilai sebuku roti kering yang menjadi nikmat kepada si fakir yang sedang dalam kelaparan tadi jika ia dihulurkan kepada anda?
Adakah anda pernah terfikir bahawa nilai nikmat pada setiap orang itu berbeza-beza?
Sampaikan ada manusia yang kabur menilai nikmat.
Ada manusia, sebuku roti itu adalah nikmat baginya dan lambang kesyukuran untuknya. Ada manusia kesenangan adalah nikmat yang paling besar baginya kerana dia telah lama menderita. Ada manusia lain yang sudah bertahun-tahun lamanya menderita sakit lalu merasakan nikmat sihat adalah nikmat yang paling berharga buatnya.
Ya, nikmat yang dikurniakan itu sangat berbeza pada setiap individu. Sehinggakan ada manusia yang tidak tahu menilai nikmat yang datang kepadanya. Baginya, nikmat atau laknat sama sahaja.
Lalu bagaimanakah kayu ukur sebuah nikmat itu?
Pada nikmat yang diberi atau kepada yang menerima nikmat?
Jawabnya: Nilai dan kayu ukur sebuah nikmat terletak pada erti bersyukur.
Seorang yang kaya-raya tidak akan tahu menilai mana satu rezeki yang berupa nikmat kepadanya kerana dia berkuasa memperolehi segala-galanya melainkan dia tahu akan erti bersyukur. Dengan bersyukur, dia bisa menghargai segala kurniaan yang datang kepadanya samada kecil atau besar, sama ada diperlukan atau tidak dan sama ada sikit atau pun banyak. Dia akan sentiasa bersyukur ketika dia menghadapi situasi senang mahupun sukar.
Pendek kata, Allah S.W.T  tidaklah memandang sebesar mana nikmat yang diberikan oleh-Nya kepada manusia, tetapi melihat sejauh mana sikap manusia yang tahu bersyukur dalam setiap nikmat yang dikurniakan. Apabila seorang hamba itu bersyukur, dia akan menghargai nikmat yang datang sekaligus menghargai pemberi nikmat, iaitu Allah S.W.T.

Hindari Berdebat dengan Orang Jahil


Imam Syafi’i adalah adalah seorang ulama besar yang banyak melakukan dialog dan pandai dalam berdebat. Sampai2 Harun bin Sa’id berkata :
“Seandainya Syafi’i berdebat untuk mempertahankan pendapat bahwa tiang yang pada aslinya terbuat dari besi adalah terbuat dari kayu niscaya dia akan menang, karena kepandainnya dalam berdebat”. (Manaqib Aimmah Arbaah hlm. 109 oleh Ibnu Abdil Hadi).
Boleh saja berdebat, baik dengan lawan ataupun kawan, namun semuanya harus dalam rangka nasehat dan mencari kebenaran, bukan kemenangan. Inilah salah satu adab mulia dalam dialog atau debat yang seharusnya kita perhatikan bersama, apalagi akhir-akhir ini semakin marak dialog dan debat di sana sini.
Imam Syafi’i berkata :
مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا قَطُّ عَلَى الْغَلَبَةِ
“Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan” [Tawali Ta’sis hlm.113 oleh Ibnu Hajar]
Namun, jika yang kita hadapi ternyata adalah orang2 jahil, maka lain perkaranya. Bahkan Imam Syafi'i rahimahullah berkata :
"Aku MAMPU BERHUJAH dengan 10 orang yang BERILMU, tetapi aku PASTI KALAH dengan SEORANG YANG JAHIL, karena orang yang jahil itu TIDAK PERNAH FAHAM LANDASAN ILMU."
Maka dari itu, kita mending MENGALAH saja dengan orang yang jahil. Jika tidak, maka kita akan sama2 TURUT JAHIL. Maka DIAM saja itu PENYELAMAT, daripada diteruskan saling berbantahan yang TIADA KESUDAHAN.
Lengkapnya dari Imam Syafi'i Rahimahullah dalam SIKAP MENGHADAPI ORANG-ORANG JAHIL :
ﺍِﺫَﺍ ﻧَﻄَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻔِﻴْﻪُ ﻭَﺗُﺠِﻴْﺒُﻬُﻔَﺦٌﺮْﻳَ ﻣِﻦْ ﺍِﺟَﺎﺑَﺘِﻪِ ﺍﻟﺴُّﻜُﻮْﺕُ
"Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi"
ﻓَﺎِﻥْ ﻛَﻠِﻤَﺘَﻪُ ﻓَﺮَّﺟْﺖَ ﻋَﻨْﻬُﻮَﺍِﻥْ ﺧَﻠَّﻴْﺘُﻪُ ﻛَﻤَﺪًﺍ ﻳَﻤُﻮْﺕُ
"Apabila kamu melayani, maka kamu akan susah sendiri. Dan bila kamu berteman dengannya, maka ia akan selalu menyakiti hati"
ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﺳَﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ
"Apabila ada orang bertanya kepadaku,“jika ditantang oleh musuh, apakah engkau diam ??”
Jawabku kepadanya : “Sesungguhnya untuk menangkal pintu-pintu kejahatan itu ada kuncinya.”
ﻭَﺍﻟﺼُّﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟِﺼَﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ
"Sikap diam terhadap orang yang bodoh adalah suatu kemuliaan. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan"
Lalu Imam Syafi'i berkata :
ﻭَﺍﻟﻜَﻠﺐُ ﻳُﺨْﺴَﻰ ﻟَﻌَﻤْﺮِﻯْ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺒَّﺎﺡُ
"Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam ?? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong ??"
[“Diwan As-Syafi’i” karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i]
Beliau rahimahullah menambahkan :
"Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek
Maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi" [Diwan Asy-Syafi’i hal. 156]
Maka : Tidak perlu kita berdebat dengan orang2 yang nantinya hanya akan menghinakan diri kita sendiri, bahkan bisa jadi juga menghinakan para ulama.
Untuk itu Imam Syafi'i berkata kepada orang jahil yang menantangnya berdebat :
"Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, toh diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi Singa meladeni anjing"
Dan Nabi Muhammad shållallåhu ‘alayhi wa sallam juga telah bersabda :
“Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.” [HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah].
Sudaraku.. Berdebat tidaklah terlarang secara mutlak, karena terkadang untuk meluruskan sebuah syubhat memang harus dilalui dengan berdebat. Dan debat itu terkadang terpuji, terkadang tercela, terkadang membawa mafsadat (kerusakan), dan terkadang membawa mashlahat (kebaikan), terkadang merupakan sesuatu yang haq dan terkadang merupakan sesuatu yang bathil. Namun jika debat dilakukan orang jahil, maka jelas hanya mafsadat-lah yang akan tertampil sebagai hasil.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman :
خُذِ العَفْوَ وَأْمُرْ بِالعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الجَاهِلِيْنَ
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang jahil" (QS. Al-A’raf: 199)
Semoga bermanfaat. Hanya pada Allaah kita memohon petunjuk.
Wallahu Ta'ala A'lam bish showaab..